Madu adalah cairan alami yang umumnya memiliki rasa manis yang
dihasilkan oleh lebah Madu dari sari bunga tanaman (floral nectar) atau bagian
lain dari tanaman (extra floral nectar) atau ekskresi serangga.
Dalam
koloni lebah madu, madu sebenarnya berfungsi sebagai makanan utama bagi
masyarakat lebah yang tinggal di koloni tersebut. Namun karena produksi madu
dari koloni lebah ini pada umumnya lebih dari yang mereka butuhkan, maka
kemudian manusia ikut mengambil kelebihan produksi makanaan lebah tersebut
untuk berbagai kebutuhannya.
Bukankah di Al-Quran pun ada ayat yang berbunyi :
Disinilah nampak kebenaran Al Qur’an di surat Al Baqarah ayat 29 yang berbunyi ”Dia-lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu…”
Bukankah di Al-Quran pun ada ayat yang berbunyi :
“Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.” (QS. An Nahl : 69).
Disinilah nampak kebenaran Al Qur’an di surat Al Baqarah ayat 29 yang berbunyi ”Dia-lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu…”
Dari
sisi kandungan kalori madu tidak jauh berbeda dengan gula, satu kilogram madu
dapat memberikan sekitar 3500 kalori sedangkan satu kilogram gula dapat
memberikan sekitar 3900 kalori. Di luar kalori ini madu sangat berbeda jauh
dengan gula. Berikut adalah point-point dimana madu berbeda dengan gula.
Madu
tidak mengandung bahan kimia yang berbahaya, hampir seluruh zat dalam madu
dapat terserap oleh tubuh dan hanya kurang dari 1/200 bagian madu yang akan
dibuang oleh tubuh. Gula merupakan hasil dari berbagai proses pemanasan dimana
asam organic, protein, enzyme dan vitamin yang ada di alam (tebu atau beat)
terekstraksi atau rusak dan bahkan bahan-bahan berbahaya seperti hydrochloric,
phosphoric dan sulphuric acids masuk kedalam gula pada proses pembuatannya
tersebut.
Madu
adalah pemanis alami yang proses pembuatannya tidak melibatkan sentuhan
manusia. Gula adalah proses konsentrasi, denaturalisasi dan bahkan polusi
terhadap hasil alam(tebu) dimana melalui proses pemanasan dalam pembuatan gula
menghancurkan zat-zat yang sangat penting seperti protein, enzyme dan asam-asam
organic tersebut.
Madu
mengandung unsur-unsur kehidupan termasuk berbagai mineral yang terkandung di
dalamnya. Gula putih khususnya yang semula berasaal dari sari tebu berwarna
gelap dan mengandung mineral, dalam proses yang disebut defecation, mineral-mineral
tersebut ‘terhilangkan’ karena apabila tidak maka tidak akan menjadi
kristal-kristal gula putih.
Madu
adalah pemanis terbaik dari kelompok gula sederhana karena untuk berasimilasi
dalam tubuh tidak memerlukan aktifitas pencernaan yang berat, gula sederhana
ini terkandung secara melimpah di dalam madu. Gula putih (dari tebu) perlu
pekerjaan yang berat dari system pencernaan dan kerja keras dari pankreas untuk
memproduksi insulin, penggunaan gula tebu secara terus menerus membuat
kemampuan kerja pancreas menurun yang kemudian menimbulkan penyakit diabetis.
Perbedaan-perbedaan
tersebutlah yang membuat penemu insulin yaitu DR. Banting pada tahun 1929 sudah
menyatakan bahwa “ Di Amerika Serikat kasus penderita diabetis meningkat
sejalan dengan penggunaan gula putih (tebu), dalam pembuatan gula tebu melalui
proses pemanasan dan kristalisasi sesuatu telah berubah dan menghasilkan bahan
makanan yang berbahaya untuk dikonsumsi ”. Pendapat ini dikuatkan oleh ahli
lain DR. Serge Veronoff yang menyatakan bahwa secara ilmiah seharusnya umur
manusia rata-rata dapat mencapai 120 tahun apabila dapat meningalkan tiga bahan
pangan yaitu gula, tepung dan garam.
Menyangkut
kehebatan madu dibandingkan gula DR. Harvey W. Willey, sesepuh ahli kimia dari Department
of Agricultural and Director of Bureau of Foods, Sanitation and Healths –
USA dalam suratnya kepada American Honey Institute antara lain
mengingatkan untuk hati-hati mensosialisasikan madu, karena apabila semua orang
tahu kelebihan madu terhadap gula maka akan timbul masalah lain yaitu tidak
cukupnya produksi madu untuk memenuhi seluruh kebutuhan penduduk, dampaknya
harga madu akan melonjak sangat tinggi – sehingga madu tidak lagi menjadi bahan
pangan/kesehatan yang murah dan terjangkau.
Anda
yang beruntung membaca blog ini dan mengetahui kehebatan madu dibandingkan
gula, sudah seharusnya mengganti seluruh menu makan dan minum Anda yang selama
ini menggunakan gula dengan madu…selagi madu belum menjadi barang yang terlalu
mahal untuk dibeli seperti dikawatirkan oleh DR. Willey tersebut.
Madu NTB
Propinsi NTB merupakan salah satu
daerah podusen madu yang telah dikenal secara nasional. Potensi madu menyebar
di berbagai kabupaten di wilayah Propinsi NTB
.
Di NTB madu diproduksi dengan dua
cara yaitu :
1. MADU HUTAN : Madu yang dipanen langsung
dari hutan (madu hutan) dengan jenis lebah Apis Dorsata. Madu hutan NTB umumnya berasal dari Kabupaten
Sumbawa yang merupakan salah satu daerah penghasil madu alam terbaik di
Indonesia, dan keberadaan madu ini sudah dikenal di seluruh tanah air.
Terkenalnya khasiat madu Sumbawa disebabkan oleh sumber pakan madu yang berasal
dari lebah liar yang habitatnya berada di dalam hutan.
2. MADU BUDI DAYA : Madu yang diperoleh
dari hasil budi daya dengan jenis lebah Apis Cerana dan Trigona Sp. Madu
budidaya berasal dari pulau Lombok. Umumnya di budidayakan oleh masyarakat yang
tinggal disekitar kawasan hutan. Budidaya madu dilakukan oleh masyarakat di
pekarangan rumah atau dikebun mereka. Lebah ini dibudidayakan dengan
menggunakan Stup dan Gelodog.
Lokasi Penghasil Madu NTB
Untuk menjamin keaslian madu yang
kita beli, kita harus pintar memilih penjual. Untuk madu hutan di pulau Sumbawa
madu dengan kualitas terjaga bisa diperoleh melalui Jaringan Madu Hutan Sumbawa
(JMHS). JMHS didirikan oleh 3 koperasi
dan sejumlah individu-individu yang concern sumber daya hutan.
Salah satu anggota JMHS adalah
Koperasi Hutan Lestari yang berlokasi di Desa Batudulang Kecamatan Batulanteh
Kabupaten Sumbawa. Di Koperasi ini kita bisa mengunjungi rumah madu yang
menyediakan madu asli Sumbawa. Koperasi Hutan Lestari setiap tahunnya bisa
menghasilkan rata-rata 4.000 sampai 5.000 kg madu. Bahkan pada tahun 2009
produksinya mencapai 11.500 kg. Masa panen raya madu ini umumnya pada bulan
September-Oktober, jika beruntung kita bisa ikut menyaksikan bagaimana para
pemburu madu melakukan proses pengambilan madu dengan memanjat pohon yang
tingginya puluhan meter. Kita juga bisa merasakan nikmatnya madu yang baru saja
dipanen dari sarangnya serta menikmati suasana hutan yang masih perawan.
Untuk menuju ke Desa Batudulang
bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat sejauh + 27 km dari Ibu Kota
Kabupaten Sumbawa. Dari Desa Batudulang menuju ke dua dusun dimana kita bisa
langsung menyaksikan proses perburuan madu yaitu Dusun Ponik dan Dusun
Semongkat yang jaraknya + 9 km dari Desa Batudulang.
Untuk madu budidaya di pulau
Lombok, salah satu produsennya yaitu Kelompok Tani Madu Sari yang berlokasi di
Dusun Batu Goleng, Desa Tempos, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat.
Kelompok tani ini sudah berdiri sejak tahun 2001 dan beranggotakan 30 orang
petani madu.
Kelompok tani madu sari bisa
memproduksi madu rata-rata 50 sampai dengan 100 botol tiap bulannya. Madu ini
berasal dari 270 Stup/kotak madu yang tersebar di anggota kelompok tani. Panen
raya madu di lokasi ini tergantung pada musim kemarau, karena pada saat ini
tanaman banyak yang sedang berbunga sehingga pakan lebah tersedia melimpah.
Waktu panen raya tersebut biasanya pada bulan Pebruari dan April. Selain bisa
merasakan nikmatnya madu, jika berkunjung kesini kita bisa langsung mencoba
untuk memanen sendiri madu dari sarangnya. Untuk menuju daerah ini bisa
ditempuh dengan kendaraan roda empat degan jarak + 26 km dari Mataram.
Kandungan Madu
Madu mengandung 70-80% gula
invert yang terlarut dalam : sukrosa, maltosa, dekstrik, vitamin C, vitamin B1,
vitamin B2, vitamin B6, asam pontotenat, asam folat, mineral Na, K, Ca, Mn, Fe,
Cu, P, S, enzim hormone, zat bakterisida, fungisida, zat aromatic, lilin,
protein, minyak atsiri, dan asam formiat serta serbuk sari bunga.
Madu
mengandung air 12.5% – 22 % dari beratnya (tergantung jenis produknya. Sebagai
contoh madu dari Rumah Madu tipe classic mengandung air +/-18% ; tipe Gold
+/-15% dan tipe platinum mendekati 12.5%) dan komposisi terbesarnya adalah
monosakarida dalam bentuk glukosa dan fruktosa . Selebihnya dalam
persentase yang kecil adalah sukrosa, maltosa dan yang sangat penting adalah
apa yang disebut sebagai phytochemicals dari berbagai jenis tumbuhan,
tergantung dari mana lebah memperoleh nectar-nya untuk memproduksi Madu.
Phytochemicals adalah nama umum zat kimia alami yang aktif secara
biologis yang berasal dari tanaman.
Setiap
tanaman memiliki phytochemical-nya sendiri-sendiri dan memiliki nama
khusus tergantung tanamannya. Misalnya tomat dan semangka menghasilkan lycopene,
teh dan bawang menghasilkan quercetin, anggur menghasilkan anthocyanin
dlsb. Phytochemicals inilah yang antara lain berperan aktif yang membuat
Madu memiliki berbagai khasiat pengobatan.
Sumber
rujukan lain berdasarkan National Honey Board (USA) – madu secara umum
mengandung hal-hal berikut:
Komponen
Utama Madu
(%)
Air 17.1
Fruktosa 38.5
Glukosa 31.0
Sukrosa 1.5
Maltosa dan gula pereduski lainnya 7.2
Trisakarida dan karbohidrat lainnya 4.2
Sub Total 99.5
Konstituen minoritas termasuk vitamin, mineral, asam amino dslb 0.5
Total 100
Air 17.1
Fruktosa 38.5
Glukosa 31.0
Sukrosa 1.5
Maltosa dan gula pereduski lainnya 7.2
Trisakarida dan karbohidrat lainnya 4.2
Sub Total 99.5
Konstituen minoritas termasuk vitamin, mineral, asam amino dslb 0.5
Total 100



No comments:
Post a Comment
ketik komentar anda